Empat bulan sudah kulewati hari denganmu, kasih… Dan kaupun menjadi bagian dalam hidupku. Tapi empat bulan itu pula kau berikan kepedihan yang mendalam. Harapku kulabuhkan dan kusandarkan hati ini padamu dengan maksud dan tujuan mulia. Dengan ikatan suci yang Allah ridhai, Namun… Kau khianati dan kau ingkari, bahkan kau campakkan aku begitu saja. Kenapa?
Sebelum ikatan cinta, kenapa kau bohongi aku. Dan kau katakan sayang padaku. Bukankah sering kali kukatakan itu padamu dan sering pula kutanyakan rasamu padaku. Dengan itu pula yang membuat hatiku mantap untuk meminangmu ke ikatan yang mulia. Dan bukankah pula sering kali aku bilang bahwa kupun mau dijodohkan dengan anak teman ayahku. Bahkan lebih cantik darimu. Bukankah akupun sudah berjanji dengan keluargamu bahwa aku akan serius menjalin hubungan denganmu. Karena itu aku memilihmu, dan aku coba untuk menyayangimu.
Tapi, kau menghancurkan semua harapan yang kubangun dan kususun dengan rapih. Kau bersikap dan tak pernah menganggap aku sebagai pemimpin dalam rumah tangga kita. Bahkan sering kali kau lontarkan kata-kata yang menyakitkan hatiku. Dan kau katakan tak merasa kita tak pernah menikah. Dan kau katakan bahwa kau tak pernah mencintaiku. Lebih menyakitkan lagi kau katakan semua yang aku lakukan dan saat aku kerumahmu adalah ulah mamahmu. Apa maksudmu padaku….Apa pula tujuanmu berbohong menyayangiku?
Kini kau tak bisa menerima kenyataan bahwa aku menikahimu. Sering kali kau katakan masalah usia dini. Tapi itu bukanlah alasan yang tepat bagiku. Banyak contoh yang bisa menjalaninya dengan baik. Hanya alasanmu saja berucap untuk menyalahkanku. Dan nyatanya kau ucapkan kau tak pernah sayang padaku.
Dua bulan sudah kau pergi meninggalkanku. Walau aku tahu kau ada dimana, tapi percuma. Sikapmu tidak pernah berubah. Sering kali ku Sms yang mungkin bisa merubah fikiranmu dengan kata-kata yang menyejukkan. Tapi kau tak pernah membalas dan tak pernah pula kau kabarkan kabarmu disana.
Aku merasa sudah tak berarti lagi dalam hidupmu. Kini aku sudah hancur, suatu ketika anak yang dulu mau dijodohkan denganku hidup bahagia dan mau dikaruniai seorang anak. Hatiku hancur karena aku salah memilih. Sering kali kuratapi diriku sendiri dengan penuh sesak. Sering kali kusesali apa yang terjadi padaku. Tapi akupun tersadar, semua tidak dapat sembuh dengan ratapan dan sesalan.


